Penulis dari Mandailing Natal Sumatera
  Penulis dari Mandailing Natal Sumatera
Penulis dari Sumatera - Home
  Home
  Contact
  Horas perantau dari Tapanuli
 KITA HANYA IBARAT MESIN YANG DIBERI TUGAS

Ketika saya berbincang-bincang di sebuah warung di desa, saya banyak sekali mengobrol dengan penduduk setempat. Saat itu, dapatlah kugambarkan bahwa rupanya di sebagian desa, ada banyak orang tua laki-laki yang sudah merasa cukup dengan pendapatan si istri. Walau pendapatannya hanya pas-pasan, tapi dia sudah tidak merasa kurang lagi. Dia sudah merasa tidak kurang lagi dengan apa yang dimilikinya. Bila ada pertandingan tinju di televisi, dialah salah seorang penonton setia yang selalu siap menunggu dan menontonnya. Bila ada sinetron yang agak menarik, dia akan ikuti hingga episode terakhir. Pokoknya lebih banyak waktu yang dihabiskannya buat bersantai-santai tanpa memikirkan apa yang harus dikerjakannya yang kira-kira bisa menghasilkan uang. Beginilah cara hidup yang membuat saya berpikir tujuh keliling. Padahal uang yang didapatkannya dari istrinyapun hanya bisa buat membeli teh manis dua kali dalam satu hari, tapi penghasilan istrinyalah yang selalu diharapkannya. Ada pula sebagian orang, dia mau bekerja tapi gajinya hanya diperutukkan buat uang jajannya. Dia mau bekerja sesekali bila uang jajannya habis. Dia istirahat di kedai bila uang jajannya sudah dirasa cukup. Bahkan-bahkan banyak istri yang mengatakan, "sudah syukur dia tak minta uang. Saya sangat senang bila dia mau bekerja untuk mendapatkan gaji buat jajannya. Yang saya takutkan, dia malah meminta, padahal penghasilan sayapun hanya pas-pasan buat makan". Beginilah pada akhirnya pemikiran seorang istri bila sang suami melakonkan dirinya sebagai seorang yang saya gambarkan tadi. Jadi saya menyarankan agar bagi para pelajar yang sedang membaca buku saya, agar janganlah kiranya meniru yang seperti ini, bagi yang seusia dengan saya, semoga  buku ini bisa kiranya menjadi penasehat bagi yang sudah lupa. Kita mestinya memikirkan apa yang bisa kita kerjakan. Kita harusnya tahu bahwa hari esok masih sangat panjang. Kita jangan terlena, sehingga bila anak-anak nanti sudah mulai melanjutkan sekolah, kita hanya bisa mengatakan, "Kamu harus maklum, nak. Kita orang tak punya. Bersyukurlah dengan keadaan ini. Tak usah kamu berpikir yang panjang-panjang. Ayah tidak akan mampu menyekolahkanmu. Kita tidak seperti mereka-mereka yang kaya". Banyak sekali saya temui orang semacam ini. Bahkan bukan saja berbicara pada anaknya. Pada teman saya sendiripun  banyak orang bilang, "Kamu kan punya uang, kamu punya pekerjaan, jadi semua orang percaya padamu. Apapun yang kamu lakukan, selalu saja berhasil".Kalimat ini akan terlahir bila kita tersadar bahwa kita sudah tidak punya apa-apa untuk diandalkan. Padahal sebenarnya, pada dasarnya semua orang itu sama saja. Bila ada perbedaan, mungkin hanya sedikit saja. Semua orang ingin kaya, semua orang punya pikiran, semua orang punya waktu dan punya teman sebagai tempat mufakat. Tapi yang sering membedakan manusia adalah perbuatannya. Bila seseorang itu rajin, maka ia akan menjadi seorang yang rajin, bila seseorang itu mengasah otaknya maka ia akan menjadi seorang yang pintar. Bila seseorang itu berbuat ulet, maka ia akan menjadi seorang yang ulet. Padahal sebelum dia bersikap ulet, sebenarnya dia  bukanlah seorang yang ulet. Sebelum ia bekerja dengan tekun dia  bukanlah seorang yang rajin. Jadi dalam hidup, kita mesti bekerja, kita mesti mengisi hidup dengan sesuatu yang berguna. berguna untuk jasmani dan rohani kita, dan alangkah bahagianya kita kalau menjadi seorang yang berguna bagi orang lain,
apalagi berguna bagi banyak manusia. Alangkah mulianya hidup kita bila seandainya kita selalu mengatakan yang terbaik. Kita mulia di depan manusia, dan mulia di sisi Sang Pencipta Alam. Kita mestinya percaya bahwa keberhasilan itu adalah milik seorang yang rajin, milik seorang yang ulet, dan miik semua yang baik-baik. Bila seseorang itu mengatakan, "Waduh, saya tidak akan mampu". Kita mesti cepat cepat berpikir bahwa dia pasti punya kemampuan di sisi lain. Dia pasti punya kelebihan di bidang lain. Dia seharusnya mencoba bekerja sesuai bidangnya atau sesuai dengan apa yang disukainya. Bila dia belum menghasilkan uang, dia masih seperti yang saya ceritakan di atas. Masih selalu meminta uang untuk jajan pada istrinya, berarti dia masih berlakon sebagai orang yang belum mencoba. Kita harus selalu mengingat bahwa keberhasilan itu diciptakan untuk manusia. Tuhan menciptakan keberhasilan dan kegagalan. Keberhasilan buat yang berbuat sesuai aturan, kegagalan buat seseorang yang tak sesuai peraturan. Tuhan menunjukkan cara-cara untuk meraihnya di dalam kitabnya. Tuhan menceritakan bagaimana orang-orang sebelum kita telah menerima kegagalan. Semua itu bisa kita jadikan sebagai bahan pelajaran agar kita selalu memilih dan melakukan yang terbaik. Tuhan  menurunkan utusannya untuk mengajari manusia. Bila masih ada yang beranggapan bahwa ia tidak akan mampu, ia tidak akan berhasil, berarti dia sudah tidak percaya bahwa keberhasilan itu diturunkan untuk manusia. Alangkah bahagianya kalau menjadi seorang lelaki atau menjadi seorang ayah yang  bisa mengayomi anak-ananya,  bisa membimbing anak-anaknya ke jalan yang benar. Alangkah bahagianya bagi seorang wanita bila seandainya ia bisa menghadirkan seorang anak buat suaminya, bisa mengasuh anak-anaknya, bisa memfungsikan dirinya sebagai ibu rumah tangga yang sesungguhnya. Jadi inilah yang seharusnya kita pikirkan. Kita harus mengerti bahwa diri kita adalah ibarat sebuah mesin. Yang sedang diberi tugas untuk mencari keberhasilan di permukaan bumi ini. Kita berusaha untuk berhasil di bidang keduniaan, dan juga berhasil dengan apa-apa yang diperintahkan oleh yang telah menciptakan. Kita telah diberi alat pegelola seperti tangan. Kita telah diberi alat pendesain, pemikir, seperti otak. Kita telah diberi roda atau alat penggerak seperti kaki. Kita diberi lambung sebagai wadah penampung bahan bakar atau makanan. Kita diberi mata sebagai alat penglihat, lalu apa lagi yang kurang? Memang ada sebagian orang yang kurang penglihatan, tapi Tuhan selalu menciptakan seseorang untuk membantunya. Bila matanya tak terobati, Tuhan akan memberi seorang pasangan buatnya yang sesuai dengan kekurangannya. Bila matanya masih bisa terobati, Tuhan sudah membukakan hati sebagian hambanya untuk berpikir dan bisa mengobati orang yang berpenyakit mata. Mereka adalah ahli di bidang penyakit mata. Bila seseorang itu pincang, Tuhan telah membukakan hati sebagian hambanya unuk menjadi seorang pengrajin alat yang bisa membantu orang yang pincang. Bila peyakitnya tak tersebuhkan, tetap saja Tuhan akan memberi seorang pasangan yang serasi untuknya. Seorang pasangan yang bisa bekerja sama dengannya untuk mengarungi kehidupan ini. Jadi semuanya sudah lengkap di hadapan kita. Kegagalan maupun keberhasilan, kita sendiri yang akan mengusahainya. Semoga tidak akan ada lagi yang menyesali nasibnya. Semoga akan lebih banyaklah orang yang berusaha dengan sebaik-baiknya. Semoga bagi siapa saja yang membaca buku saya ini, agar janganlah kiranya menjadi seperti beberapa orang yang saya temui di kedai itu. Saya tidak sempat menasehati mereka pada waktu itu, tapi dalam hati, saya terus berpikir bagaimana caranya untuk menyadarkan orang-orang seperti itu. Hingga suatu saat saya menulis
buku ini, tibalah kesempatan bagi saya untuk mencurahkan apa yang saya pikirkan pada waktu itu. Walupun bukan para orang tua itu yang membaca buku ini, tapi semoga saja jangan lagi ada yang akan menjadi seperti mereka yang saya ceritakan di atas.

Motivasi lainnya, klik disini

















Today, there have been 2 visits (2 hits) on this page!